Showing posts with label Pergaulan. Show all posts
Showing posts with label Pergaulan. Show all posts

Aug 1, 2016

Fenomena Awkarin, Menggagas Konsep Perlindungan Anak Yang Menyeluruh

Fenomena Awkarin, Menggagas Konsep Perlindungan Anak Yang Menyeluruh
Belum hilang dalam ingatan kita sosok Yuyun yang menjadi korban dari remaja nakal di kotanya. Kini hadir sosok Awkarin (Karin Novilda) yang fenomenal mengguncang jagat dunia maya. Awkarin muncul dengan segala tingkah polah yang seronok dan vulgar, baik dari segi berpakaian maupun berpacaran. Yang menjadi masalah, sosok tersebut kemudian meroket cepat mendapatkan banyak sekali follower di instagram dan video di youtube yang dia unggah mendapatkan jutaan view. Orang mungkin terheran-heran, bagaimana mungkin sosok lugu dengan prestasi akademik yang bagus bisa  berubah drastis saat menempuh jenjang pendidikan SMA, hanya dalam waktu 3 tahun saja.

Fenomena Awkarin menurut kami adalah contoh kecil perubahan yang terekspos oleh dunia maya. Jumlah sebenarnya perubahan anak-anak kecil yang baik-baik saja menjadi 'luar biasa' sebenarnya banyak, dan sangat banyak. Untuk direnungkan, jika kita sebagai pendidik di Taman Pendidikan Al Quran (TPA), berapa persen dari mereka (anak-anak kecil yangsholeh dan sholehah) yang tetap bertahan memakai kerudung hingga jenjang pendidikan SMA. Berapa persen dari santri laki-laki yang masih mengerjakan sholat 5 waktu. Sedikit bukan? Tentu kejadian ini membuat kita sadar, bahwa ada masalah dalam kehidupan ini yang harus kita selesaikan. Bukan dengan sembunyi mengasingkan diri dari kehidupan serta hanya membentuk komunitas yang homogen tentunya. Karena kita adalah bagian dari sistem kehidupan yang lebih luas.

Kita harus berani jujur untuk mengatakan bahwa sistem kehidupan yang saat ini dipakai di Indonesia bukanlah sistem kehidupan Islam. Tak mengherankan jika kita katakan, fenomena Awkarin dan berbagai kerusakan moral yang ada lahir dari sistem kehidupan bukan Islam ini. Mengapa demikian? Sistem kehidupan yang saat ini dipakai (baca: kapitalisme) lahir dari gagasan tentang kebebasan dan asas manfaat. Banyak hal boleh dilakukan karena merasa bahwa manusia bebas melakukan hal tersebut. Suatu perbuatan boleh diambil asal parameter bermanfaat terpenuhi. Inilah mengapa muncul orang yang berfikiran mencari uang dengan memperlihatkan bentuk tubuh boleh-boleh saja, karena itu merupakan kebebasan individu dan bermanfaat. Dan masih banyak fenomena lain tentunya.

Mencoba berempati, bisa dikatakan bahwa fenomena Awkarin dan yang lainnya adalah korban dari model kehidupan yang bermasalah ini. Lantas bagaimana sikap kita sebagai muslim memandang hal tersebut? Jargon-jargon 'Kembali Kepada Al Quran dan Sunnah', 'Islam adalah Agama Sempurna', 'Muslim Bertauhid', 'Mengikuti Rasul dan Para Sahabat' dan semisal perlu diejawantahkan lebih lanjut dalam konsep kehidupan, bukan hanya dalam kesholehan pribadi saja.

Jika kita melihat kembali bagaimana Islam memandang kehidupan. Akan kita dapati bahwa Islam mengatur kehidupan juga, jadi Islam bukan sekedar agama ritual ansich. Kita akan menjumpai ternyata Islam mengatur masalah sistem pendidikan, sistem pergaulan, sistem sangsi, sistem ekonomi, bahkan hingga sistem pemerintahan. Kesemua hal tersebut baiknya kita pandang dari sudut keimanan, jika itu sebuah perintah dari Sang Pencipta, maka sebagai muslim dan muslimah, kita harus berupaya agar terealisasi dalam kehidupan. Dan ketika konsep pengaturan kehidupan dalam Islam itu bisa terealisir dalam kehidupan, kami yakin dapat melindungi anak secara menyeluruh, sehingga fenomena Awkarin-Awkarin yang lain bisa dicegah dan diminimalisir dengan maksimal. 

Wallahu alam bishowab.

Oleh : Suryono [Founder Kaos Bapak Sholeh]  

Sep 19, 2011

Pengaturan Hubungan Pria dan Wanita

Pengaturan Hubungan Pria dan Wanita

Allah menciptakan manusia, baik pria maupun wanita, dan pada mereka Allah ciptakan pula potensi kehidupan (thaaqah hayawiyah) yang meliputi kebutuhan jasmani, naluri mempertahankan diri (gharizah baqa'), naluri melestarikan keturunan (gharizah nau') dan naluri beragama (gharizah tadayyun).

Dalam mengatur interaksi pria dan wanita yang lahir dari naluri melestarikan keturunan, Islam menjelaskannya secara rinci. Pertama, Islam mengatur hubungan antara pria dan wanita yang bersifat seksual (dalam rangka melestarikan jenis) dengan perkawinan dan pemilikan hamba sahaya, diluar keduanya dianggap sebagai kemaksiatan/dosa. Di luar hubungan lawan jenis, yakni interaksi-interaksi lain yang merupakan manifestasi dari gharîzah an-naw‘ (naluri melestarikan jenis manusia) —seperti hubungan antara bapak, ibu, anak, saudara, paman, atau bibi— Islam telah membolehkannya sebagai hubungan silaturahim antar mahram. Kedua, dalam hubungan yang bersifat umum - bidang perdagangan, pertanian, industri, keilmuan, ibadah (misal shalat berjamaah), dakwah, dll. Islam mengaturnya dengan menetapkan beberapa hukum berikut:

Pertama, Islam telah memerintahkan kepada manusia, baik pria maupun wanita, untuk menundukkan pandangan.

Apr 25, 2011

Merenungkan Kembali Khittah Kartini


Andai Kartini masih hidup, mungkin air matanya akan jatuh. Perjuangannya membela perempuan, ditafsirkan sangat melenceng dari khittah. Profil perempuan masa kini sungguh jauh dari gambaran ideal yang dikehendaki Kartini. Yakni, perempuan yang menyadari kodratnya, cerdas, terampil dan menikmati peran sebagai istri, ibu, pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Seperti penuturan Kartini dalam suratnya: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama” (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Potret generasi Kartini masa kini justru sebaliknya. Yakni perempuan yang mulai meremehkan kodratnya dan bahkan mengabaikan keterampilan terkait kewajibannya. Memang perempuan makin terdidik, namun bukan malah menjadikannya  pintar menjalankan kewajibannya, melainkan disibukkan menuntut hak-haknya.

Ini karena keberhasilan perjuangan kesetaraan perempuan dan laki-laki dimaknai kesamaan peran kedua jenis kelamin itu dalam berbagai lapangan kehidupan. Emansipasi diklaim sukses jika makin banyak perempuan berkiprah menyamai laki-laki, baik di bidang politik, ekonomi, hukum, pendidikan, sosial dan sebagainya.

Apr 8, 2011

Untukmu Wahai Para Pemuda....

Dan entah dari mana, terngiang sebuah seruan yang menggema,
menusuk-nusuk jiwa...
duhai pemuda! Bencana!
Duhai pemuda! Bencana!

Duhai pemuda, Bencana!

Saat kau hanya sibuk mengumbar kata di antara wanita.
Berdalih menyerukan kebenaran dan menunjukkan jalan kebaikan.
Namun kau begitu menikmati ...
di kala wanita-wanita itu mengagumi dan menyukai
setiap kata yang kau ucapkan.
Tak kah kau sadari,

Meluruskan Pemahaman: Jilbab dan Kerudung

Bedanya Kerudung & Jilbab
1. Pengantar

Banyak kesalahpahaman terhadap Islam di tengah masyarakat. Misalnya saja jilbab. Tak sedikit orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan jilbab adalah kerudung. Padahal tidak demikian. Jilbab bukan kerudung. Kerudung dalam al-Qur’an surah An-Nuur [24]: 31 disebut dengan istilah khimar (jamaknya: khumur), bukan jilbab. Adapun jilbab yang terdapat dalam surah al-Ahzab [33]: 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah.

Kesalahpahaman lain yang sering dijumpai adalah anggapan bahwa busana muslimah itu yang penting sudah menutup aurat, sedang mode baju apakah terusan atau potongan, atau memakai celana panjang, dianggap bukan masalah. Dianggap, model potongan atau bercelana panjang jeans oke-oke saja, yang penting ‘kan sudah menutup aurat. Kalau sudah menutup aurat, dianggap sudah berbusana muslimah secara sempurna. Padahal tidak begitu.