Showing posts with label Soal-Jawab. Show all posts
Showing posts with label Soal-Jawab. Show all posts

Aug 23, 2014

Pakaian Wanita Non-Muslim dalam Naungan Khilafah

Soal:
Contoh penutup kepala menurut agama-agama di dunia
Penutup kepala wanita menurut berbagai agama
Assalamu ‘alaikum, pertanyaan saya terkait dengan sebuah pasal dalam rancangan UUD. Pada pasal 7, ayat 4 atau D, dari versi terjemahan Bahasa Inggris edisi ke II tahun 2010, menyatakan: “The non-Muslims will be treated in matters related to foodstuffs and clothing according to their faith and within the scope of what the Shari’ah rules permit. My question is related to clothing.” (Non-muslim, dalam masalah terkait pakaian dan makanan, diperlakukan sesuai dengan kepercayaan mereka dan dalam lingkup yang diijinkan oleh hukum syara’). Pertanyaan saya terkait dengan pakaian. Apakah wanita non-muslim adakan dibolehkan untuk memakai pakaian apa saja selama dapat menutupi badan serta wajar (sederhana) semisal gaun panjang (long dress), atau celana panjang disertai kemeja? Ataukah mereka akan diharuskan untuk memakai khimar dan jilbab seperti kaum muslimah?

Dec 31, 2013

Hukum Merayakan Tahun Baru

perayaan tahun baru masehi
Soal:
Ustadz, bolehkah seorang muslim ikut hukum merayakan tahun baru?

Jawab:
Perayaan tahun baru Masehi (new year’s day, al ihtifal bi ra`si as sanah) bukan hari raya umat Islam, melainkan hari raya kaum kafir, khususnya kaum Nashrani. Penetapan 1 Januari sebagai tahun baru yang awalnya diresmikan Kaisar Romawi Julius Caesar (tahun 46 SM), diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, yaitu Paus Gregorius XII tahun 1582.  Penetapan ini kemudian diadopsi oleh hampir seluruh negara Eropa Barat yang Kristen sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian tahun 1752. (www.en.wikipedia.org; www.history.com)

Nov 8, 2013

Batas Maksimal Laba Perdagangan, Adakah?


Soal:
Ustadz, apakah dalam syariah Islam ada batasan maksimal laba dalam perdagangan, misal 30% atau 100%? [Muhammad, Bogor]

Jawab:
Yang dimaksud dengan “laba” (ar-ribhu, profit) adalah tambahan dana yang diperoleh sebagai kelebihan dari beban biaya produksi atau modal. (Rawwas Qol’ah Jie’, Mu’jam Lughah al-Fuqaha’, hal. 168). Secara khusus “laba” dalam perdagangan (jual beli) adalah tambahan yang merupakan perbedaan antara harga pembelian barang dengan harga jualnya. (Yusuf Qaradhawi, Hal li ar-Ribhi Had A’la?, hal. 70)

Menurut kami, tidak ada batasan laba maksimal yang ditetapkan syariah Islam bagi seorang penjual, selama aktivitas perdagangannya tidak disertai hal-hal yang haram. Seperti ghaban fahisy (menjual dengan harga jauh lebih tinggi atau lebih rendah dari harga pasar), ihtikar (menimbun), ghisy (menipu), dharar (menimbulkan bahaya), tadlis (menyembunyikan cacat barang dagangan) dan sebagainya. (Yusuf Qaradhawi, Hal li ar-Ribhi Had A’la?, hal. 72-74; Taqiyuddin an-Nabhani, an-Nidham al-Iqtishadi fi al-Islam, hal. 191)

Sep 29, 2013

Hukum Al-Qur'an Seluler

Tanya:
Ustadz, bagaimana hukum perlakuan terhadap al-Quran seluler, apakah sama
al-Quran Seluler
Contoh Tampilan al-Quran Seluler
seperti mushaf al-Quran dari kertas? [Aris Bogor]

Jawab:
Al-Quran seluler adalah program al-Quran dalam memori telepon seluler yang dapat diaktifkan sehingga dapat dibaca dan/atau dapat pula mengeluarkan rekaman suara seorang qori' yang membaca ayat-ayatnya.

Hukum seputar al-Quran seluler ini termasuk masalah baru, sehingga pembahasan fiqhnya tak dapat ditemukan secara langsung dalam kitab-kitab ulumul Quran klasik, seperti al-Mashahif karya Imam Sijistani (w. 316 H), at-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran karya Imam Nawawi (w. 676 H), al-Burhan fi 'Ulumil Quran karya Imam Zarkasyi (w. 794 H), dan al-Itqan fi Ulumil Qur'an karya Imam Suyuthi (w. 911 H).

Jun 18, 2013

Seputar Bid'ah

Pertanyaan:
Assalamu‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.
Kemarin, orang-orang sedang keluar dari shalat Jumat. Orang-orang berjubel di pintu masjid, lalu seseorang berkata “shallû ‘alâ an-nabiy –bershalawatlah kepada nabi-. Maka seseorang yang lain berkata: “diamlah, itu bid’ah.”

Pertanyaannya, apakah itu bid’ah atau tidak? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawab:
Wa‘alaikum as-salam wa rahmatullah wa barakatuhu.
Ucapan orang itu “shallû ‘alâ an-nabiyyi –bershalawatlah kepada nabi- di pintu masjid bukan merupakan bid’ah. Hal itu karena bid’ah adalah menyalahi perintah asy-Syâri’ yang dinyatakan tatacara penunaiannya.

May 28, 2013

Rayah dan Liwa, Warna dan Tulisannya

Pertanyaan kepada Syaikh Ata Bin Khalil Abu Rusytah (Amir HT) melalui Fanspage FB Beliau
Ada pertanyaan berikut dari salah seorang syabab, saya sampaikan kepada Anda teksnya:
Assalamu a‘laikum wa rahmatullah wa barakatuhu… Banyak perdebatan di sini di Suria seputar Rayah Rasulullah saw … dan banyak terdapat perbedaaan pendapat … Diantaranya pertanyaan yang disampaikan kepada “Hay`ah asy-Syâm al-Islâmiyyah” di situsnya dengan judul: “apakah ada rayah tertentu yang wajib dipegangi oleh orang-orang Suria?”

Apr 4, 2013

Siapakah ‘Aswaja’?


Soal:
Banyak kelompok yang mengklaim dirinya Ahlus Sunnah wal Jamaah karena klaim kebenaran dan ahli surga, sementara yang lain bukan. Sebenarnya siapakah Ahlus Sunnah wal Jamaah? Apakah mazhab atau kelompok tertentu? Bagaimana ciri-cirinya?

Jawab: 
Istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah sebenarnya merupakan istilah baru. Pada zaman Nabi saw, istilah ini belum dikenal. Demikian juga pada zaman Khulafaur Rasyidin, Khilafah Umayyah dan permulaan zaman Khilafah ‘Abbasiyyah. Pada zaman itu, satu-satunya istilah yang digunakan adalah “Muslimûn”.[1]

Istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah ini baru digunakan dan berkembang pada pertengahan zaman Khilafah ‘Abbasiyah untuk membedakannya dengan “Syî’ah”,

Feb 4, 2013

Haramkah Mematok Upah Minimum Pekerja?


Soal:
Beratnya beban hidup mendorong para pekerja menuntut kenaikah upah minimum kepada perusahaan tempatnya bekerja dan pemerintah. Desakan ini mendorong pemerintah menaikkan standar upah minimum tersebut. Bolehkah, pemerintah menetapkan standar upah minimum tersebut?

Jawab:
Pertama: harus dipahami, bahwa relasi pekerja dengan pengusaha, atau buruh dengan majikan, adalah relasi yang didasarkan pada akad ijârah, yaitu akad terhadap suatu jasa (manfa’at) yang diberikan oleh pekerja atau buruh, dengan kompensasi (‘iwadh) yang diberikan oleh pengusaha atau majikan. Akad ini didefinisikan oleh para fuqaha’ dengan:

اْلإِجَارَة هِيَ عَقْدٌ عَلَى الْمَنْفَعَة بِعِوَضٍ
Akad ijarah adalah akad terhadap jasa dengan suatu kompensasi.[1]

Feb 2, 2013

Hukum Menjamak Sholat Karena Hujan


Tanya:
Ustadz, mohon dijelaskan hukum sholat jamak karena hujan. (Muammar Ali, Yogya)

Jawab:
Para ulama berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya menjamak sholat karena hujan. Menurut ulama Hanafiyah sholat jamak tidak boleh, termasuk sholat jamak karena hujan. Karena ulama Hanafiyyah hanya membolehkan sholat jamak dalam satu keadaan, yaitu sholat jamak taqdim Zhuhur dan Ashar bagi jamaah haji pada hari Arafah, dan sholat jamak ta`khir Maghrib dan Isya pada malam Muzdalifah.

Aug 31, 2012

Bagaimana Mendudukkan Silaturahmi Secara Syar’i?


Soal:
Sebagai istilah, kata silaturahmi sudah jamak digunakan. Akan tetapi, antara fakta dan maksud syar’i-nya berbeda. Lalu, bagaimana fakta dan maksud silaturahmi yang benar menurut syariah? Kapan dan bagaimana pula bentuk-bentuk silaturahmi yang diperintahkan?
Jawab:
Sebelum menjelaskan fakta silaturahmi, kita harus memahami fakta kerabat (aqârib) dalam pandangan Islam. Islam membedakan kerabat menjadi dua: Pertamayang disebut dzawu al-irts (mereka yang berhak menjadi ahli waris)Kedua, yang disebut dzawu al-arham (mereka yang mempunyai hubungan mahram). Dalam Ilmu Faraidh, orang-orang yang masuk kategori dzawu al-irts ini juga disebut ashhâb al-furûdh (orang yang mendapat bagian waris) dan‘ashabah (orang-orang yang mendapat bagian sisa). Dengan kata lain, dzawu al-‘irts adalah orang-orang yang mendapatkan bagian waris, sementara dzawu al-arhâm tidak.

Jul 23, 2012

Kesaksian Hilal yang Bertentangan dengan Ilmu Astronomi

Kesaksian Hilal yang Bertentangan dengan Ilmu Astronomi

Soal:
Ustadz saya mau nanya nih. Masalah lebaran kemaren. Secara astronomis mustahil bisa melihat di hari jum’at (menurut para ahli astronom seluruh dunia), dan hanya baru bisa melihat di hari sabtu…dan ini telah di buktikan (di Aus melihat hilal pas hari sabtu). Terus secara astronomis, klaim melihat di Saudi tidak dapat diterima karena saat itu umur new moon hanya beberapa menit saja. Sedangkan hilal sedikitnya baru bisa terlihat setelah umur bulan sudah 8 jam, seringnya lebih dari 20 jam. Bagaimana pendapat Ustadz?

Jadi pertanyaan saya:

Jika ada orang yang mengatakan bahwa mereka melihat hilal, sedangkan menurut ilmu astronomi itu mustahil bisa di lihat, apakah kita tetap wajib untuk menerimanya atau wajib menolaknya? Jadi masalahnya apakah yang di lihat oleh orang itu benar2 hilal atau tidak.
Mohon penjelasannya Ustadz. Syukron

Jul 19, 2012

Dalam Penentuan Ramadhan, Siapa yang Harus Diikuti?

Dalam Penentuan Ramadhan, Siapa yang Harus Diikuti?

Tanya :
Ustadz, dalam penentuan Ramadhan siapa yang harus diikuti umat? Apakah wajib mengikuti pemerintah sekarang ini?

Jawab :
Yang diwajib diikuti oleh kaum muslimin dalam penentuan awal Ramadhan, sesungguhnya hanyalah ulil amri (penguasa) dalam negara Khilafah, yaitu khalifah bukan yang lain. (Muqaddimah Ad Dustur, 1/21). Sebab hanya khalifah itulah yang memenuhi syarat-syarat sebagai ulil amri yang sah dan wajib ditaati umat, sebagaimana firman Allah SWT :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

”Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kamu.” (QS An-Nisaa` [4] : 59).

Ulil amri (penguasa) ada dua macam; pertama, ulil amri yang sah menurut syara’ dan wajib ditaati oleh umat Islam. Dalam hal ini umat Islam tidak boleh memberontak (al-khuruj) kepada ulil amri ini serta wajib memberikan nasihat atau muhasabah kepadanya jika dia lalai atau menyalahi Syariah Islam.

Kedua,  ulil amri yang tidak sah menurut syara’ dan tidak wajib ditaati oleh umat Islam. Dalam hal ini umat Islam boleh memberontak (al-khuruj) kepada ulil amri ini, namun hanya terbatas memberontak secara politik, yakni sikap politik tidak taat (membangkang), bukan memberontak dengan senjata (perang). Umat Islam wajib melakukan muhasabah politik secara tegas kepada ulil amri semacam ini. (Lihat Al Waie [Arab], No 295-297, Juli-September 2011, hlm. 205-206).
Ulil amri yang sah wajib memenuhi 3 (tiga) syarat; pertama, wajib memenuhi 7 (tujuh) syarat khalifah, yaitu muslim, laki-laki, merdeka (bukan budak), berakal, baligh, adil (tidak fasik), dan berkemampuan (ahlul kifayah wa al qudrah). Jadi kalau ada satu atau lebih dari tujuh syarat itu yang tidak terpenuhi, maka dengan sendirinya ulil amri yang ada tidak sah menurut syara’. Misalnya, beragama non Islam, berjenis kelamin perempuan, gila, masih anak-anak (belum baligh), berbuat fasik (misalnya berzina, terlibat riba, suap, dsb), atau tidak mampu baik secara fisik (misalnya sakit berat) maupun tidak mampu dalam arti tidak cakap menjalankan roda pemerintahan Islam. Dalil-dalil syar’i terperinci untuk ketujuh syarat ini telah diuraikan dalam kitab Muqaddimah Ad Dustur, Beirut : Darul Ummah, 2009, Juz I hlm. 130-133.
Kedua, wajib dibai’at oleh umat secara syar’i dan sahih untuk melaksanakan kekuasaan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Jadi kalau penguasa yang ada tidak dibai’at oleh umat untuk melaksanakan Al Qur`an dan As Sunnah, berarti dia ulil amri yang tidak sah. Sebab bai’at tiada lain adalah akad (kontrak) politik penyerahan kekuasaan dari umat kepada seseorang yang diangkat menjadi khalifah untuk melaksanakan Al Qur`an dan As Sunnah. Dalil-dalil kewajiban bai’at secara garis besar ada dua, yaitu pembaiatan kaum muslimin kepada Rasulullah SAW dan perintah Rasulullah SAW kepada umat Islam untuk membaiat seorang imam (khalifah), seperti sabda Rasulullah SAW :
مَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَ ثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اِسْتَطَاعَ
”Barangsiapa membaiat seorang imam lalu memberikan kepadanya genggaman tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia mentaati imam itu sekuat kemampuan dia…” (HR Muslim, no 1844). (Muqaddimah Ad Dustur, 1/139)

Ketiga, wajib segera menerapkan Syariah Islam secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Jadi kalau penguasa yang ada tidak menerapkan Syariah Islam, atau hanya menerapkan Syariah Islam secara parsial, atau bahkan memusuhi Syariah Islam, berarti dia ulil amri yang tidak sah. Sudah maklum bahwa menerapkan Syariah Islam secara keseluruhan adalah wajib, sesuai firman Allah SWT :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
”Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya.” (QS Al Baqarah [2] : 208). (Al Waie [Arab], No 295-297, hlm. 205-206).

Berdasarkan tiga syarat ulil amri di atas, maka dapat dikatakan bahwa para penguasa Dunia Islam saat ini, entah itu di Libia, Suria, Sudan, Tunisia, Mesir, Yaman, Arab Saudi, juga para penguasa negara-negara Teluk, Iran, Turki, Asia Tengah, Asia Tenggara, dan lain-lain, semuanya adalah ulil amri yang tidak sah dan tidak wajib ditaati, termasuk dalam penentuan puasa Ramadhan. (Al Waie [Arab], No 295-297, hlm. 206). Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 16 Juli 2012
Muhammad Shiddiq Al Jawi

Sep 10, 2011

KHILAFAH HANYA 30 TAHUN?

KHILAFAH HANYA 30 TAHUN?

Soal:
Benarkah Khilafah hanya tiga puluh tahun? Jika benar, apakah berarti setelah itu kewajiban menegakkan Khilafah tidak ada lagi? Jika benar, apakah berarti bentuk negara dan sistem pemerintahan saat ini tidak harus mengikuti model Khilafah?

Jawab:
Pendapat yang menyatakan bahwa Khilafah hanya tiga puluh tahun sesungguhnya didasarkan pada manthuq (makna harfiah) hadis. Padahal secara harfiah, dalam redaksinya memang tidak disertai hashr (pembatasan) yang bisa diartikan “hanya tiga puluh tahun”. Hadis tersebut, antara lain, diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam kitab Shahih-nya:

Aug 17, 2011

Bagaimana Memahami Hadits Terbaginya Umat Ini Menjadi 73 Golongan?

Bagaimana Memahami Hadits Terbaginya Umat Ini Menjadi 73 Golongan?


Sebenarnya pembahasan seputar hadits terpecahnya umat Nabi Muhammad saw ini cukup panjang, yang pernah kami gali dan pahami, terangkum pada point-point berikut:

Pertama:
Lafazh ummatku disitu bisa dimaknai umum mencakup seluruh manusia yang hidup sejak kenabian Muhammad saw, mengingat risalah beliau berlaku umum atas seluruh manusia. Bisa juga dimaknai khusus yaitu perpecahan terjadi hanya pada umat Islam saja.

Jun 17, 2011

HARAMKAH DEMONSTRASI?

HARAMKAH DEMONSTRASI?

Oleh: Hafidz Abdurrahman


Di tengah maraknya gelombang unjuk rasa di negeri-negeri Arab, Hai'ah Kibar 'Ulama' Saudi mengeluarkan fatwa yang mengharamkan aksi tersebut. Bagaimana sebenarnya kedudukan aksi yang menuntut perubahan tersebut, boleh atau tidak?

Menarik untuk ditelaah alasan yang dijadikan dasar fatwa Hai'ah Kibar ‘Ulama' Saudi. Dalam fatwanya dinyatakan bahwa:
"Kerajaan Saudi Arabia berdiri berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul, baiat, berpegang teguh pada jamaah dan ketaatan. Karena itu, perbaikan dan nasihat terhadapnya hendaknya tidak dilakukan dengan unjuk rasa serta berbagai cara dan sarana yang bisa menimbulkan fitnah dan perpecahan jamaah. Inilah yang diharamkan oleh ulama' negeri ini, baik dulu maupun sekarang."

May 9, 2011

"Cinta Tanah Air Sebagian Dari iman"; hadits palsu?

"Cinta Tanah Air Sebagian Dari iman"; hadits palsu?


SOAL
Ustadz tolong jelaskan status hadits "hubbul wathon minal iman" (cinta tanah air sebagian dari iman)? (Ismail, Tangerang)   

JAWAB
Ungkapan "hubbul wathon minal iman" memang sering dianggap hadits Nabi SAW oleh para tokoh [nasionalis], mubaligh, dan juga da`i yang kurang mendalami hadits dan ilmu hadits. Tujuannya adalah untuk menancapkan paham nasionalisme dan patriotisme dengan dalil-dalil agama agar lebih mantap diyakini umat Islam.   Namun sayang, sebenarnya ungkapan "hubbul wathon minal iman" adalah hadits palsu (maudhu’). Dengan kata lain, ia bukanlah hadits. Demikianlah menurut para ulama ahli hadits yang terpercaya, sebagaimana akan diterangkan kemudian.   

May 1, 2011

Seputar Debt Collector

Seputar Debt Collector

Soal:
Bagaimana status hukum debt collector dalam Islam? Bolehkah menagih hutang dengan menggunakan jasa debt collector? Jika tidak, bagaimana caranya menagih hutang kepada orang yang tidak beritikad baik untuk membayar hutang dalam pandangan Islam?

Jawab:
Sebelum membahas tentang hukum debt collector ini, ada baiknya kita menelaah lebih jauh faktor yang menyebabkan terjadinya praktik penagihan hutang dengan menggunakan jasa mereka, yang oleh Menkum HAM, Patrialis Akbar (6/4/11), disebut sebagai tindakan main hakim sendiri. Masih menurut dia, secara hukum penggunaan jasa debt collector ini dianggap ilegal.

Dalam hukum pinjam meminjam di Indonesia, berlaku dua model, yaitu fiducia,

Mar 28, 2011

Bolehkah Wanita Menjadi Imam Pria?

Bolehkah Wanita Menjadi Imam Pria?

Soal:
Bagaimana hukumnya wanita menjadi muazin, imam, dan khatib shalat Jumat yang dilakukan di gereja?

Jawab:
Pertanyaan ini muncul berkaitan dengan kasus Amina Wadud, profesor filsafat wanita asal Afrika yang menjadi guru besar di Amerika, dengan beberapa orang, baik kaum pria maupun wanita, yang mengadakan shalat Jumat di gereja. Dalam konteks ini, ada dua mindframe yang harus dipisahkan secara tegas, yaitu: hukum dan logika feminisme.