Manajemen Diri: Meraih Sukses Sejati

Manajemen Diri: Meraih Sukses Sejati

Menuju sukses dunia akhirat
Sukses Sejati: Hikmah dari Doa Sapu Jagat

Qotadah r.a. bertanya kepada Anas r.a., "Doa apakah yang sering dibaca oleh Nabi?" jawab Anas, "Allahumma Rabbana aatinaa fid dun-ya hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa adzaabannaar." [HR Ahmad]

Doa di ataslah yang sering dikenal dengan sebutan doa sapu jagat. doa yang menghimpun semua kebaikan. Sebagai seorang muslim, kita harus bercita-cita menjadi orang yang sukses. sukses seperti apa? Dari doa tadi, kita dapat menyimpulkan bahwa sukses yang hakiki adalah suatu kondisi di dunia yang mampu menciptakan nilai tambah bagi diri sendiri dan masyarakat sekitar dalam rangka menggapai kehidupan bahagia kelak (akhirat).

Berikut adalah hal-hal yang harus dicapai seorang muslim sekaligus indikator pencapaian kesuksesannya (SUKSES DUNIA-AKHIRAT):

1. Keimanan yang kokoh dan produktif
Keimanan adalah kunci semua kesuksesan dan kebahagiaan. Merugilah orang yang terlahir ke dunia, namun tidak memiliki keimanan (islam). Agar menjadi keimanan yang kokoh dan produktif, keimanan harus didasarkan pada proses berfikir bukan dogmatis, taklid atau berdasarkan keturunan. oleh karena itu, kita wajib belajar dan terus belajar agar keimanan kita adalah keimanan yang berasal dari pilihan kesadaran kita dan melalui proses berfikir yang benar.

2. Keluarga yang bahagia
keluarga yang bahagia ditandai dengan suami shaleh, istri shalehah serta keturunan yang shaleh shalehah. iIstilah lainnya adalah keluarga yang sakinah mawaddah war rahmah. bagi para pemuda pemudi tentu mendambakan semua itu, oleh karenanya hal yang dapat dilakukan adalah belajar bagaimana membangun keluarga yang sukses dan menjauhi hal-hal yang akan merusak kesuksesan dalam berkeluarga seperti mendekati zina (pacaran, dll) dan bergaulah dengan pergaulan islam.

3. Tubuh yang sehat
tubuh yang sehat memungkinkan kita beraktivitas secara optimal. Ketiak tubuh sakit, kita disunahkan untuk berobat dan berdoa memohon kesembuhan kepada Yang Maha Menyembuhkan, Allah Swt.

4. Bisnis atau Karier yang sukses
Bisnis merupakan wahana untuk menjemput rizki. Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan diri dan siapa saja yang menjadi tanggungan kita, rizki juga didistribusikan untuk zakat, infak atau pun shadaqoh. Kita harus yakin bahwa rizki berada di tangan Allah, bekerja hanyalah hal/keadaan yang dapat mendatangkan rizki, bisa juga tidak. Kita juga berkewajiban mencari nafkah yang halal dan menjauhi hal-hal yang haram.

5. Hubungan antar manusia yang baik
Betapa indahnya ketika hidup dapat berdampingan dengan sesama, saling menghargai, tolong - menolong, nasehat menasehati, banyak teman dan jauh dari permusuhan. Oleh karenanya, hubungan baik dengan tetangga/sesama adalah salah satu dari indikator kesuksesan kita.

6. Pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang optimal
tumbuh dan berkembangnya pribadi yang optimal berarti kita mampu mengembangkan semua potensi yang Allah anugerahkan kepada kita. Akal atau pemikiran kita semakin bertambah dengan tsaqofah dan pengetahuan secara umum, sehingga kita mampu membedakan mana yang wajib, sunah, mubah, makruh dan haram. dan perbuatan kita pun selalu sesuai dengan pemikiran islam yang dipahami. Dengan begitu, tampaklah sosok-sosok tangguh dan khas dengan kepribadian islamnya.

7. Berporos pada jalan dakwah
Dakwah adalah wajib bagi setiap muslim, tentu sesuai dengan kadar pemahamannya. Kita dapat melihat masa RasuluLlah dan masa sahabat - yang merupakan masa terbaik dalam sejarah manusia - mereka semua menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan mereka. 

8. Hidup yang dinikmati
Kebahagian hidup di dunia adalah sebagian dari doa sapu jagat. Ini mencakup keselamatan, kesehatan, rumah yang nyaman, istri/suami yang shaleh/shalehah, rizki yang berkah, amal shaleh, kendaraan yang baik, dll. Maka, nikmatilah hidup yang bahagia.

sudahkah kita mencapai 8 indikator2 di atas?
sudahkah bertekad meraih 8 indikator tsb? jika belum........
mari berlomba meraih kesuksesan hidup di dunia wal akhirat.

[disarikan dari : M. Karebet Wijayakusuma, "Be The Best not be Asa", hal 81-87]
Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

Post a Comment

lihat