Sejarah Propaganda Jepang terhadap Umat Islam Indonesia - Bag I

Sejarah Propaganda Jepang terhadap Umat Islam Indonesia - Bag I

Buku Api Sejarah 2
Perang Asia Timur Raya diawali dengan penyerbuan Pearl Harbour, 7-12-1941. Namun, sasaran perang Jepang tidak terbaca secara jelas, berlanjut menyerang ke arah Amerika. Melainkan lebih difokuskan untuk menguasai Asia Pasifik sebagai sasaran utamanya yang akan dijadikan lebensraum - living space - lahan kehidupannya.

Untuk itu, jepang harus berhadapan dengan AS penjajah Filipina, Perancis penjajah Indo Cina, Inggris penjajah India, Pakistan, Myanmar dan Sri Lanka, dan Belanda penjajah Indonesia, serta Cina yang ingin dikuasainya.

Sebenarnya tidak seorang pun jenderal ataupun politisi yang dapat memastikan kapan perang dimulai dan berakhir. Seperti yang dinyatakan oleh Carl von Clausewitz, perang seperti embrio yang sangat kecil dalam rahim. Kemudian berkembang dan pecahlah menjadi besar. Oleh karena itu, sebelum perang pecah membesar, disiapkan dan diawali terlebih dahulu dengan propaganda.

Balatentara Jepang memahami bahwa obyeknya, Asia dan Pasifik, bangsanya memiliki kultur yang beragam. Untuk Indonesia, disiapkan propaganda yang diarahkan untuk mengubah opini ulama dan umat Islam Indonesia agar menaruh simpati kepada Kerajaan Shinto Jepang.

Propaganda tersebut diawali sejak 1935 M, di Kobe didirikan masjid yang pertama di Jepang. Kemudian disusul dengan mendirikan masjid di Tokio, 1938 M. Diikuti dengan mendirikan Perserikatan Islam Jepang - Dai Nippon Kaikyo Kyokai, 1938 M, dipimpin Jenderal Senjuro Hayashi yang dikenal sebagai Bapak Islam Jepang. 

Pada 5-29 November 1939, Jepang mengadakan Pameran Islam di Tokio. Arah tujuan pameran ini adalah umat Islam Indonesia. Karena itu, diundanglah pimpinan Majlis Islam A'la Indonesia. Utusan MIAI terdiri dari Abdoel Kahar Moezakkir, Mr Kasmat, Faried Ma'roef, Machfoed Siddiq, dan Abdoellah Al Moedi. Seluruh biaya akomodasi dan transportasi ditanggung oleh panitia pameran. 

Harry J. Benda menambahkan meskipun dari segia agama, Jepang tidak mungkin berhasil menjadikan negaranya sebagai pusat dunia Islam. Namun, dalam propagandanya disebut adanya kesamaan antara ajaran shinto dan Islam. Bahkan dalam propagandanya sangat berani menyatakan bahwa Kaisar Hirohito akan beralih agama memeluk Islam. Strategi tersebut sangat menyentuh perasaan umat Islam.

Kekaisaran Jepang mengikuti apa yang diputuskan oleh Kongres Al islam Indonesia (KAII) dari Majlis Islam A'la Indonesia, antara lain tentang Bendera Merah Putih. Oleh karena itu, Jepang mempropagandakan dukungannya terhadap pengibaran Bendera Merah Putih.

Pengaruhnya dapat dilihat pada perkembangan sikap pimpinan partai politik Islam dan Ulama. Apalagi setelah Jepang mampu membuktikan menaklukkan Belanda dalam Kapitulasi Kalijati, 8-3-1942. Peristiwa runtuhnya pemerintahan kolonial Belanda oleh Jepang membuat rakyat merasa benar-benar terbebas dari penjajahan pemerintahan Kristen yang berabad-abad menindas umat Islam. Apalagi disertai pembebasan Dr. Abdoel Karim Amroellah dari pembuangannya di Sukabumi. Diikuti pembebasan Ir. Soekarno dari Bengkulu, M Hatta dan Sutan Syahrir dari Banda, menjadikan hati rakyat terbuka terhadap kehadiran Jepang.
Perjanjian Kalijati
Walaupun Gubernur Jendral Tjarda van Starkenborg menolak penyerahan Indonesia karena mentaati PM Prof. Gebrandy dari London. Namun, Jendral Ten Porten bersedia melakukan penandatanganan penyerahan Indonesia tanpa syarat kepada Jendral Hitoshi Imamura pada 8 Maret 1942 

Rakyat sangat terkejut, seminggu setelah pendudukan Jakarta, di Masjid Kwitang hadir tentara Jepang dengan seragam tentara ikut berjamaah shalat. Selanjutnya, diikuti hadirnya Kolonel Horie bersama tentara Jepang yang beragama Islam Muhammad Abdul Munaim Inada yang memberikan pidatonya dalam bahasa Jepang. Walaupun sukar dipahami, tetapi kehadirannya di masjid menjadikan rakyat merasa dekat dengan Jepang.
Abdul Muniam Inada Muslim Indonesia
Ceramah Maulid Nabi Muhammad Saw di Masjid Kwitang, Jakarta, 24 April 1943. Balatentara jepang dalam rangka mendapatkan dukungan dari ulama dan umat Islam Indonesia agar dapat memenangkan Perang Asia timur raya, menugaskan Abdul Muniam Inada, Muslim Jepang.

Propaganda Jepang jauh lebih terarah kepada Ulama. Terutama diarahkan kepada ulama di desa-desa. Propaganda ini jauh lebih berhasil daripada propaganda  Jerman atas ulama Timur Tengah. Walaupun berita pembinasaan Yahudi sangat dipahami oleh ulama Timur Tengah, namun jerman gagal dalam pendekatan keagamaannya. Lebih menampilkan kekuatan militer daripada dukungan dan pennghormatannya terhadap Islam. Politik pendekatan kepada ulama desa ini disebut Nippon's Islamic Grass roots Policy. Pendekatan ini akan berhasil kalau pimpinan dan sistem kepartaian diubah. Walaupun propagandanya tidak disebutkan tentang rencana pemerintah jepang yang akan membubarkan seluruh partai politik yang didirikan pada masa kebangkitan kesadaran nasional Indonesia.

[Ringkasan "Api Sejarah 2" karya Ahmad Mansur Suryanegara, hal 11-16, Cet IV, Penerbit Salamadani, Bandung]

Kaisar Hirohito mempropagandakan menjadi khalifah

Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

Post a Comment

lihat